Tampilkan postingan dengan label Lain-lain. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Lain-lain. Tampilkan semua postingan

30 Oktober 2009

Memaknai Sumpah Pemuda

Sumpah Pemuda, serangkai kata yang barangkali ketika kita mendengarnya akan timbul rasa nasionalisme yang tinggi. Mungkin ini hanyalah luapan emosi sesaat, atau entah kata apa lagi yang tepat untuk mendeskripsikan perasaan yang muncul tersebut.

Sumpah pemuda yang telah diikrarkan 28 Oktober 1928 silam menjadi peristiwa yang sarat dengan makna. Peristiwa itu menjadi pemicu para pemuda untuk mempersatukan bangsa dengan mengaku berbangsa dan bertanah air Indonesia serta menjunjung bahasa persatuan, yaitu bahasa Indonesia. Peristiwa ini menjadi sangat berarti dan memiliki nilai tersendiri dalam sejarah Indonesia dalam memperjuangkan kemerdekaan. Sumpah pemuda muncul dari kesadaran para pemuda pada saat itu bahwa kemerdekaan akan dapat terwujud dengan adanya persatuan. Dengan kesadaran bahwa pemuda adalah penentu masa depan bangsa, para pemuda mulai berfikir mencari inisaiatif yang tepat dalam mempersatukan pemuda dan akirnya dicetuskanlah sumpah pemuda.
Keadaan tersebut sepertinya mulai bersifat kontradiktif dengan kondisi saat ini. Rasa nasionalisme seakan memudar. Citra bangsa Indonesia sebagai bangsa yang berbudaya seakan telah luntur dengan adanya praktek – praktek pengkhianatan terhadap makna sumpah pemuda oleh para pemuda pada saat ini. Ada pepatah yang mengatakan “Budaya mencerminkan bangsa”, namun yang terjadi sekarang adalah mulai ditinggalkannya kebudayaan – kebudayaan yang dimiliki bangsa ini dari berbagai sisi, entah karena pengaruh – pengaruh yang sengaja dilakukan oleh bangsa lain atau karena rendahnya rasa nasionalisme dan rasa kepemilikan yang dimiliki oleh pemuda pada khususnya.
Akankah Sumpah Pemuda hanya sekedar peringatan tahunan saja? Akankah semangat tersebut juga menjadi rutinitas tahunan pula? Negara dan bangsa kita yang mungkin sudah dirusak secara besar-besaran harus kita bangun kembali lewat reformasi di segala bidang. Kita semua sedang menghadapi berbagai akibat globalisasi ekonomi dan globalisasi komunikasi. Kita juga sedang menghadapi berbagai dampak dari aksi-aksi terorisme, dan lain – lain.
Kita sebagai pemuda, hendaknya memaknai Sumpah Pemuda sebagai pemicu kita untuk turut serta membangun kehidupan berbangsa dan bernegara yang lebih baik. Dengan semangatnya, kita patut berlomba menorehkan prestasi dalam berkarya untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia kita dan tentunya selalu berusaha menjadi yang terbaik.

Semoga bermanfaat. Amiin.

02 September 2009

Selamat Datang Mahasiswa Baru 2009

Assalamu’alaykum Wr. Wb.
Segala puji marilah kita panjatkan kepada Allah SWT atas segala limpahan rahmat, berkah, dan nikmat – Nya. Sholawat serta salam Shalawat serta salam semoga selalu tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW beserta keluarga, sahabat dan para pengikutnya yang telah menuntun umat manusia ke jalan yang diridhoi Allah SWT.
Selamat datang kepada mahasiswa baru 2009 yang telah berjuang keras untuk masuk kampus tercinta ini. Kita hendaknya senantiasa bersyukur karena tidak semua orang memperoleh kesempatan menempuh pendidikan di UNS. Tindak lanjut syukur itu adalah bekerja keras selama menempuh pendidikan. Ya, meskipun kita diterima bukan pada pilihan pertama kita, hehehe.
Mahasiswa dapat diartikan sebagai tataran status pelajar yang tertinggi. Terkait dengan status tersebut, mahasiswa dituntut mampu berperan dan mempertanggungjawabkan satusnya tersebut yang mungkin diantaranya peran sebagai hamba Tuhan Yang Maha Esa, peran sebagai anak untuk berbakti kepada orang tua, dan peran kepada sesama, yaitu dengan berbuat sesuatu untuk lingkungan masyarakat sekitarnya karena dipandang memiliki pemikiran dan pengetahuan yang lebih tinggi dari siswa atau masyarakat pada umumnya biasanya. Sesungguhnya manusia diciptakan dan di utus ke dunia tidak lain adalah untuk menjadi khalifah di muka bumi. Di manapun kita berada dan dimanapun kita diterima – hehehe – tetaplah berusaha menjadi yang terbaik dan bermanfaat. Semoga kita termasuk di dalamnya.
Mantapkan hati dan niat!
Selamat menempuh tataran hidup yang baru.
Wassalamualaykum Wr. Wb.
Bidang Kreativitas Mahasiswa

18 Juni 2009

BIDANG KREATIVITAS MAHASISWA

Pengantar
Mahasiswa bukanlah sekedar status. Jangan memandang mahasiswa sebagai makhluk – makhluk yang dikenyangkan oleh tumpukan buku dan terpuaskan hanya dengan torehan indeks prestasi akademik.
Sebagai manusia sejati, mahasiswa hendaknya tidak mengendapkan ide – ide kreatifnya dalam kondisi yang jenuh. Perlu adanya pemicu dan wadah untuk mengubah hal tersebut.
Bidang kreativitas mahasiswa adalah bidang yang hidup dan dihidupkan oleh mahasiswa – mahasiswa prodi Bahasa dan Sastra Indonesia. BKM merupakan bidang yang tidak sekedar menghimpun ide – ide kreatif serta karya dalam bentuk sastra ataupun bentuk kreativitas lainnya, melainkan kami – BKM – akan nberupaya menyalurkan dan mengaktualisasikan minat, bakat, dan semua hal tersebut seoptimal mungkin.
Berbekal optimisme, kepercayaan, dan keyakinan bahwa kreativitas akan terus berkembang, kami akan melangkah. Kreativitas bukanlah serial drama yang mengenal istilah “TAMAT” ! Narasi, deskripsi, dan sebagainya tentang kreativitas akan terus bersambung,. Begitu.

03 September 2008

Catatan Kecil.


Catatan Kecil.
(Sabtu 23 Agustus 2008)

Sebuah catatan kecil. Hanya catatan kecil. Mungkin hanya torehan sedikit kata yang mencoba memberi catatan pada kisah hari itu. Sebuah pertemuan dengan keluarga baru. Secara pribadi memang begitu. Generasi penerus mahasiswa Pendidikan Bahasa Sastra indonesia dan Daerah (P. Bastind) FKIP UNS. Saya pribadi, dan segenap keluarga besar Mahasiswa P. Bastind mengucapkan selamat datang dan selamat menapak langkah untuk menuju sebuah kesuksesan.
Cukup heboh memang! Mahasiswa P. Bastind angkatan 2008 berjumlah banyak. Seratus lebih dan di bagi menjadi 2 kelas.
Presentasi BKM
Sebenarnya tak ada yang begitu menarik dalam presentasi tersebut. Hanya mengulang-ulang apa yang telah disampaikan pada acara sebelumnya. Namun saya harus memberi catatan pada acara sebelum presentasi, yakni peserta Osmaru pada waktu itu saya suruh untuk menggambar. Sebenarnya kegiatan itu ada kelanjutannya, namun waktu tidak memungkinkan dan terputus di tengah jalan. Yah, saya hanya bisa menikmati hasil gambar-gambar yang cukup bagus, filosofis, sederhana, lucu bahkan terkadang menggelikan hati.
Kegiatan itu sebenarnya hanya sebuah eksperimen berfilosofi. Dulu, saya pernah mendapat cerita dari seorang sahabat. Dia diberi tugas oleh dosennya untuk menggambar. Dosen itu menyuruh untuk menggambar sesuai petunjuk. Tak hanya satu atau dua gambar, namun banyak gambar. Saya tertarik pada dua perintah untuk menggambar pohon dan menggambar deskripsi tujuan masa depan.
Kata dosen tersebut (saya dengar dari sahabat saya), gambar pohon dapat menjelaskan secara singkat watak dari orang yang menggambarnya. Contoh dari beebrapa pohon yang tidak baik untuk digambar adalah pohon kelapa dan pohon pisang. Pohon kelapa (katanya) menandakan orang yang mudah goyah dalam hidupnya. Sedangkan pohon pisang menandakan orang yang kurang bisa memberi arti pada hidupnya dan mudah putus asa. Juga jangan menggambar pohon yang berbuah karena hal itu menandakan kesombongan. Jangan menggambar batang pohon atau ranting yang patah/terpotong karena itu menandakan keputusasaan dan banyak lagi. Itu saja yang dapat saya terangkan dari cerita filosofi pohon.
Dan catatan berikutnya adalah perintah untuk mendeskripsikan tujuan hidup. Ketika dosen itu menerima semua hasil karya dari mahasiswanya (termasuk karya sahabat saya). Dia tertarik pada apa yang digambarkan sahabat saya. Gambar itu tampak berbeda dari gambar lainnya. Gambar itu adalah gambar kuburan. Yah tujuan hidup adalah kuburan (akhirat-red). Padahal yang lain menggambar seseorang menjadi dokter, gambar seorang perawat, gambar seorang dengan segala kesuksesannya dan lain-lain. Dan sahabat saya itu malah menggambar kuburan. Sebuah filosofi yang mengharukan bagi saya.
Dari cerita di atas, saya mencoba mengeksperimenkannya di acara presentasi BKM. Dan hasilnya? Ada gambar kelapa berbuah, gambar pohon dengan ranting patah dan sebagainya.
Dan gambar kedua tentang deskripsi tujuan hidup, mereka banyak menggambar : gambar seorang guru, gambar rumah dengan keluarga, gambar sekolah, gambar gunung, gambar bintang gambar seorang sarjana muda dan tak ada satu pun gambar sebuah kuburan. Bahkan yang membuat saya tersenyum adalah gambar itik yang bertelur angka rupiah. He he…
Yah semua itu hanya sebuah catatan. Tak ada sebuah penghakiman atau sejenisnya. Kita hanya berbagi pengalaman. Saling memberi catatan. Dan memang semua itu terserah pendapat individu masing-masing. Subjektivitas tetap berlaku di semua lini kehidupan. Manusia tak ada yang sempurna, begitu pun saya. Jika ada kata-kata yang salah dan menyinggung perasaan, saya dengan tulus mohon maaf dengan kerendahan hati. Sekali lagi, ini hanya sebuah catatan kecil.

Kabid BKM

19 Juni 2008

Buletin WARNA Edisi Perdana


Salam Redaksi

Puji syukur kami ucapkan kehadirat Allah SWT karena dengan rahmat-Nya buletin sastra dan budaya “WARNA” dapat kami terbitan. Edisi perdana buletin ini berisikan rubrik sastra dan budaya karya mahasiswa Pendidikan Bahasa Sastra Indonesia dan Daerah (Bastind). Penerbitan buletin sastra dan budaya ini diharapkan dapat meningkatkan apresiasi dan kreativitas mahasiswa terhadap sastra dan budaya
”Seperti warna dunia, itulah yang kami inginkan. Dengan mengejawantahkan kisah-kisah kehidupan, kita berharap akan menjelma warna yang indah”.
Tak lupa kami ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung, menyemangati dan membantu kami dalam penyusunan dan penerbitan buletin ini. Saran dan kritik yang membangun selalu kami nantikan.



  • PUISI



HILANG

Sunyi…….
Kenapa tak jua mau pergi…
Telah kuingkari sunyi ini
Dan berharap
Sayaaap waktu kan mendekap
dan membawanya terbang

nyata…..
aku masih merindukan hadirmu
di setiap jengkal mimpi
tlah tertoreh bayangmu

aku merindumu
seperti aku membenci kepergianmu
bila malam hadir
selalu kuharap akan ada bintang
yang akanmembawamu kembali

namun…
angan seperti angin
yang tiada mampu kurangkum
selamanya,
aku akan tatap di sini
untuk semua yang telah kita lewati

by : ragil





AKU DAN BAYANGKU BERSAMA KISAHKU

Namaku adalah seorang gadis
Lahir ke dunia dengan manis tangis
Lahir dengan sedikit kecewa
Ada yang kurang dirasa
Tuhan dosakah bayi aku kurang bersyukur?

Beranjak balita aku tumbuh
Bermain dengan celoteh dan jamah ranah
Tapi yernyata kekurangan itu makin terasa
Tapi apa, ayah, mama tak berkata
Aku dibawanya ke rumah penyembuhan
Ahli penyembuh pun tak bersuara

Masuk usia sekolah, gadis bertanya
Kenapa hanya sebelah mata,
Kenapa berkacamata,
Dan kenapa semua orang bertanya
Tak hanya bertanya bahkan menghina

Memandang segala sesuatu dengan sebelah mata
Ya.. itulah aku
Dari kecil hingga saat ini usiaku
Setumpuk keraguan bergentayanangan
Apa masa depanku hanya sebelah mata
Mungkin….ya
Hal inilah yang membuatku menjauh
Dari hiruk pikuk sesuatu

Tapi aku tak mau hanya ada ratapan
Satu hal yang buat bertahan
Hanya Tuhan

Aku hidup dengan pandangan sebelah mata
Dan selalu memandang sebelah mata
Kadang ku ingin marah pada diriku
Kadang aku tak bersyukur
Kadang aku benci pada ragaku
Tapi buat apa, untuk siapa
Hanya kegelapan yang menyapa

Bagaimana masa depanku
Bagaimana hidupku
Akankah segelap pandanganku
Yang kutakutkan ketika mentari bangun
Kuhanya bisa merasakan hangat

Adakah keajaiban buatku
Adakah kecerahan di mataku
Sebuah pertanyaan
Klise dan tak terjawab


Surakarta 23 april 2008
TB Prihatini



  • CERPEN

A D A T


Matahari hampir membakar tubuhku ketika aku ikut berdesak-desakan di antara pengunjung dan rekan wartawan lain untuk mengambil gambar Gamelan Kyai Guntu Madu ditabuh untuk yang pertama kalinya di perayaan Sekaten tahun ini. Dengan tubuhku yang ramping aku berhasil menerobos di antara lautan manusia itu, ku bidikkan kameraku mengambil setiap sudut gamelan dibangsal selatan ini. Wartawan lain bahkan lebih nekat, menaiki pagar besi yang mengelilingi bangsal tempat gamelan ini berada.
Tampak beberapa wanita mengunyah sirih yang dibelinya di halaman masjid Agung. Janur yang awalnya sebagai pemanis untuk menghiasi bangsal itu pun kini telah ludes diperebutkan orang-orang yang ingin ngalap berkah. Aku berangsur mundur dari tempatku berdiri setelah puas mengabadikan setiap sudut gamelan yang usianya telah melebihi usia nenek buyutku. Aku memilih untuk istirahat di teras masjid.
“Nggak mudik kamu, Tra?” Mas Jarot, salah satu teman seprofesiku menepuk bahuku. Aku hanya tersenyum ringan sambil menggeleng.
“Patra..Patra..mau sampai kapan kamu mau berkelana kayak gini?” Mas Jarot mengacak rambutku gemas. Mas Jarot bahkan rekan wartawan yang telah lama mengenalku memang tahu kalau aku adalah salah satu korban pelarian dari rumah alias minggat.
“Sampai aku puas!”
“Aku tahu kok, Tra. Kita semua juga tahu, kalo kamu kerja kayak gini, dan melakukan ide konyolmu itu hanya untuk melupakan Ridwan kan?”
Sial! Mas Jarot kembali mengingatkanku tentang Ridwan, penipu itu lagi.
“Sory, Tra. Bukannya aku pengen ngungkit-ngungkit tentang Ridwan lagi, tapi sekedar pengen nyadarin kamu aja. Ridwan itu bukan orang yang penting buat dicintai. Kamu seorang Patra! Apa jadinya seorang Patra yang bisa dibilang perempuan istimewa melakukan ini semua hanya untuk seorang ridwan yang tak tau diuntung itu?” Mas Jarot kembali mengulangi kata-kata yang sering diucapkan itu. Mas Jarot memang wartawan yang paling mengerti tentang aku setelah mbak Nuri, rekanku di redaksi.
“Tenang aja lagi, mas. Aku juga udah nggak mikirin dia lagi. Aku ngelakuin profesiku ini juga karena hobiku kok. Bukan karena Ridwan.”aku mencoba menetralisir semua. Aku telah beberapa kali mengatakan ini pada orang yang selalu berkata seperti Mas Jarot, meski berulang kali pula aku merasakan sakit yang masih ada meskipun rasa itu telah ku buang jauh-jauh.
“Syukurlah kalo itu emang jawaban yang berasal dari kejujuran kamu. Tapi kamu nggak bisa hidup terus-terusan kayak gini. Kamu harus pulang ke rumah, Tra. Sampai kapan kamu akan terus-terusan menghindar?” Mas Jarot kembali mengingatkanku pada rumah, pada Ayahku, Ibuku dan adik perempuanku. Aku hanya diam menanggapi ucapan mas Jarot, aku mengambil kameraku lalu mencoba mengalihkan perhatian mas Jarot pada gambar yang kuambil tadi untuk minta pendapatnya.
Aku memang melakukan pekerjaan yang dapat dibilang agak berat untuk seorang perempuan ini, semata-mata hanya untuk melupakan semua hal yang hampir membuatku gila. Beban yang kurasakan sangat menguras pikiran dan tenagaku jika aku hanya berada di rumah. Hingga aku putuskan untuk pergi dari rumah dan kembali ke Surat Kabar yang dulu pernah menampungku bekerja ini.
Ayah murka dengan keputusanku yang sangat dibencinya ini, adat telah mendiktator pikiran-pikiran Ayah untuk menjadikanku sebagai perempuan yang manis, penurut dan memberikan simbol padaku sebagai Konco Wingking pria pilihannya. Bukannya aku ingin mengubah takdir yang telah dicapkan Tuhan padaku, tapi aku tidak ingin dijajah oleh seorang pria, bahkan Ayahku sendiri yang lebih suka menerapkan hal-hal kuno yang didapatkan dari buyutku, diteruskan oleh eyang dan akhirnya mendarah daging ke Ayah itu.
***
“Losari, kamu satu-satunya harapan Ayah. Jangan seperti Patra itu, perempuan kok kerjanya keluyuran kemana-mana. Ayah ndak mau kamu jadi perempuan yang ndak punya tata krama, unggah-ungguh. Tugas kamu sebagai perempuan, ya di rumah. Begitu luwesnya jadi perempuan dan bla..bla..bla..”
Losari, adikku yang sangat disayang Ayah karena sikapnya yang penurut itu hanya menunduk ketika Ayah dengan kuasanya memberikan nasihat-nasihat yang hampir setiap hari didengarnya ketika aku melakukan suatu hal yang dianggap Ayah sebagai suatu kesalahan.
“Ayah sudah ndak tau lagi apa yang harus Ayah perbuat untuk menjadikanmu sebagai perempuan yang mau menjalani kodrat yang harus kamu terima, Tra. Sekarang Ayah juga ndak tau siapa yang salah diantara kita. Tapi Ayah sudah memutuskan, kamu harus mau menikah dengan Pratomo, anaknya Pakde Raharjo yang kemari tempo hari.” Ayah mengatakan hal itu pada siang yang kuanggap tenang karena siang itu Ayah tak mengguruiku seperti biasanya.
Kata-kata ayah yang baru saja aku dengar membuat detak mesin jantungku hampir berhenti. Seperti ada siraman air mendidih di kepalaku. Sel-sel sarafku pun seperti tak beraturan, kebingungan mencari lintasan-lintasannya, saling bertubrukan dan akhirnya melemah, menyerah dan membuatku terduduk lunglai. Hal inilah yang telah lama aku takutkan, adat telah membuat hal yang paling krusial dalam hidupku pun dicampurinya. Tak memandang bahwa hal itu telah memasuki wilayah yang paling menentukan masa depanku. Bukannya aku tak percaya pada pria yang dipilih Ayah. Pratomo adalah seorang pengusaha lulusan salah satu universitas ternama di Indonesia ini. Sikapnya pun hampir mirip dengan Ayah, mengerti unggah-ungguh, bertata krama, dan mencintai adatnya. Dapat dikatakan dia merupakan kandidat dari para orang tua yang ingin mencalonkan dia sebagai menantu idamannya. Dan merupakan hasil fotocopy Ayah, atau mungkin hasil pengklon-an ayah.
“Ayah kemarin bilang, kalau dia mau menjodohkanku dengan Pratomo.” Aku mengucapkan sebaris kalimat itu dengan pandangan kosong pada Ridwan, kekasihku, orang yang kuperhitungkan untuk menolak keinginan Ayah tentang perjodohan itu. Ridwan tampak gusar, dia mengerutkan keningnya, pertanda bahwa dia menginginkan ada kalimat lain yang kuucapkan. Namun aku tak akan menambahi kalimat itu, karena aku yakin Ridwan pasti akan mengetahui pendapatku tentang hal ini.
“Dan hubungan kita?” tak ku sangka nada suara Ridwan menjadi tinggi dengan pernyataanku tadi. Aku menoleh tepat dimatanya. Kulihat kekalutan yang dia rasakan. Tatapannya seperti pisau yang menghunusku, memojokkanku bahwa semua ini kesalahanku.
“Tanpa harus ku jawab pun seharusnya kamu sudah mengerti, Rid. Kamu tau kan kalau aku selalu tidak setuju dengan pendapat Ayah yang terlalu kuno itu?” aku juga mulai emosi. Harapanku untuk mendengar kalimat bijak dari mulut Ridwan kini berubah menjadi ketidakpercayaanku padanya.
“Patra, aku sudah bosan dengan ini semua. Ayahmu selalu ikut campur dalam hubungan kita. Semua ini hanya sebuah kesia-siaan saja. Mau sampai kapan kita akan terus begini. Aku tak dianggap sama sekali oleh Ayahmu.” Ridwan semakin tersulut. Aku terdiam, tak menanggapinya.
“Aku tahu itu sejak dulu, Rid.” Batinku. Aku memang sangat pesimis dengan hubungan ini. Aku tak akan menikah dengan seseorang tanpa restu orang tuaku, tapi aku juga tak ingin menikah dengan orang lain yang tidak aku cintai. Aku mempertahankan hubungan ini karena aku berharap Ridwan akan berjuang denganku untuk meluluhkan hati Ayah yang sekeras karang itu. Ternyata semua harapan itu kini berujung pahit, Ridwan memilih menyerah menghadapi keputusasaanku ini. Dia pergi meninggalkanku di saat aku begitu membutuhkannya.
Dan celakanya, aku begitu menggantungkan harapan-harapanku padanya. Tanpa menoleh sedikitpun pada kenyataan buruk yang bisa saja sewaktu-waktu menghampiriku seperti saat ini. Ridwan yang ku kenal baik, mampu mengerti tentang pikiran-pikiranku yang membenci kediktatoran Ayah, Ridwan yang seringkali mendukungku ketika keputusasaan menghampiriku, kini hanya menjadi Ridwan yang pecundang, yang menyerah begitu saja menghadapi sikap Ayah. Dan akhirnya memilih jalan aman untuk lari dari kehidupanku yang memang terasa begitu kelam ini.
Aku tak memilih keduanya, baik Ridwan maupun pilihan Ayah, aku perlu waktu untuk menata hidupku. Mencari kesenanganku yang dulu sempat terenggut ketika Ayah dengan kekuasaannya menyuruhku untuk tinggal di rumah, belajar menjadi perempuan dari Ibu dan Adikku. Kini aku memilih jalanku sendiri, aku harus pergi dari keterkungkunganku ini. Tanpa Ayah, Ibu, Losari, Pratomo atau Ridwan. Meninggalkan adat yang selalu dijunjung oleh keluargaku. Tak kupedulikan tentang ucapan Ayah yang menuduhku sebagai perusak adat yang telah diwariskan oleh moyangku. Dan aku pun tak pernah bermimpi untuk memiliki sebuah keraton seperti yang telah diciptakan Ayah selama ini. Aku hanya akan mencintai budayaku dengan caraku sendiri, bukan menjadi perempuan yang hidup dalam bangsal yang dikhususkan untukku. Hingga suatu saat ketika ayah dengan kebijaksanaannya membiarkanku memilih adatku sendiri.

Ika Fibri, Maret 2008/21





BUDAYA

Sekaten
Sekaten merupakan sebuah upacara adat yang digelar keraton. Sekaten dilaksanakan selama tujuh hari. Konon, asal-usul upacara ini telah ada sejak massa kerajaan Demak. Upacara ini sebenarnya merupakan sebuah perayaan hari kelahiran Nabi Muhammad. Kata Sekaten berasal dari kata Syahadatain. Sekaten dimulai dengan keluarnya dua perangkat Gamelan Sekati, Kyai Gunturmadu dan Kyai Guntursari dari keraton untuk ditempatkan di depan Masjid Agung Surakarta. Selama enam hari (mulai hari keenam sampai kesebelas bulan Mulud) kedua perangkat gamelan tersebut dibunyikan (Jw: ditabuh) untuk menandai perayaan sekaten. Akhirnya pada hari ketujuh upacara ditutup dengan keluarnya Gunungan Mulud.
Hasil suntingan dari Wikipedia Indonesia



Tim Redaksi

Pimpinan Redaksi : Susilo Adi Setyawan
Redaktur : Cerpen
- Andi Dwi Handoko
- Nur Salamah
Puisi
- Wahyu Haning L
Budaya
- Puji Rahayu
Layout : Suseno Fitri Handoko
Penerbitan : Winarni
Anggota : Semua warga Bastind.
Alamat Redaksi : Sekretariat Himprobsi
Gedung E lantai 2 FKIP UNS Jl. Ir. Sutami No. 36 A Kentingan Surakarta
Website : bastind.blogspot.com
Saran dan kritik : bastinda@yahoo.co.id (mahasiswa dan umum)



  • Redaksi menerima kiriman cerpen, puisi, essay budaya atau bentuk karya sastra dan budaya lainnya dari mahasiswa Bastind. Karya dapat dikirim (sertakan soft file) ke sekretariat redaksi atau via email dengan alamat : bastinda@yahoo.co.id