Matahari hampir membakar tubuhku ketika aku ikut berdesak-desakan di antara pengunjung dan rekan wartawan lain untuk mengambil gambar Gamelan Kyai Guntu Madu ditabuh untuk yang pertama kalinya di perayaan Sekaten tahun ini. Dengan tubuhku yang ramping aku berhasil menerobos di antara lautan manusia itu, ku bidikkan kameraku menga

mbil setiap sudut gamelan dibangsal selatan ini. Wartawan lain bahkan lebih nekat, menaiki pagar besi yang mengelilingi bangsal tempat gamelan ini berada.
Tampak beberapa wanita mengunyah sirih yang dibelinya di halaman masjid Agung. Janur yang awalnya sebagai pemanis untuk menghiasi bangsal itu pun kini telah ludes diperebutkan orang-orang yang ingin ngalap berkah. Aku berangsur mundur dari tempatku berdiri setelah puas mengabadikan setiap sudut gamelan yang usianya telah melebihi usia nenek buyutku. Aku memilih untuk istirahat di teras masjid.
“Nggak mudik kamu, Tra?” Mas Jarot, salah satu teman seprofesiku menepuk bahuku. Aku hanya tersenyum ringan sambil menggeleng.
“Patra..Patra..mau sampai kapan kamu mau berkelana kayak gini?” Mas Jarot mengacak rambutku gemas. Mas Jarot bahkan rekan wartawan yang telah lama mengenalku memang tahu kalau aku adalah salah satu korban pelarian dari rumah alias minggat.
“Sampai aku puas!”
“Aku tahu kok, Tra. Kita semua juga tahu, kalo kamu kerja kayak gini, dan melakukan ide konyolmu itu hanya untuk melupakan Ridwan kan?”
Sial! Mas Jarot kembali mengingatkanku tentang Ridwan, penipu itu lagi.
“Sory, Tra. Bukannya aku pengen ngungkit-ngungkit tentang Ridwan lagi, tapi sekedar pengen nyadarin kamu aja. Ridwan itu bukan orang yang penting buat dicintai. Kamu seorang Patra! Apa jadinya seorang Patra yang bisa dibilang perempuan istimewa melakukan ini semua hanya untuk seorang ridwan yang tak tau diuntung itu?” Mas Jarot kembali mengulangi kata-kata yang sering diucapkan itu. Mas Jarot memang wartawan yang paling mengerti tentang aku setelah mbak Nuri, rekanku di redaksi.
“Tenang aja lagi, mas. Aku juga udah nggak mikirin dia lagi. Aku ngelakuin profesiku ini juga karena hobiku kok. Bukan karena Ridwan.”aku mencoba menetralisir semua. Aku telah beberapa kali mengatakan ini pada orang yang selalu berkata seperti Mas Jarot, meski berulang kali pula aku merasakan sakit yang masih ada meskipun rasa itu telah ku buang jauh-jauh.
“Syukurlah kalo itu emang jawaban yang berasal dari kejujuran kamu. Tapi kamu nggak bisa hidup terus-terusan kayak gini. Kamu harus pulang ke rumah, Tra. Sampai kapan kamu akan terus-terusan menghindar?” Mas Jarot kembali mengingatkanku pada rumah, pada Ayahku, Ibuku dan adik perempuanku. Aku hanya diam menanggapi ucapan mas Jarot, aku mengambil kameraku lalu mencoba mengalihkan perhatian mas Jarot pada gambar yang kuambil tadi untuk minta pendapatnya.
Aku memang melakukan pekerjaan yang dapat dibilang agak berat untuk seorang perempuan ini, semata-mata hanya untuk melupakan semua hal yang hampir membuatku gila. Beban yang kurasakan sangat menguras pikiran dan tenagaku jika aku hanya berada di rumah. Hingga aku putuskan untuk pergi dari rumah dan kembali ke Surat Kabar yang dulu pernah menampungku bekerja ini.
Ayah murka dengan keputusanku yang sangat dibencinya ini, adat telah mendiktator pikiran-pikiran Ayah untuk menjadikanku sebagai perempuan yang manis, penurut dan memberikan simbol padaku sebagai Konco Wingking pria pilihannya. Bukannya aku ingin mengubah takdir yang telah dicapkan Tuhan padaku, tapi aku tidak ingin dijajah oleh seorang pria, bahkan Ayahku sendiri yang lebih suka menerapkan hal-hal kuno yang didapatkan dari buyutku, diteruskan oleh eyang dan akhirnya mendarah daging ke Ayah itu.
***
“Losari, kamu satu-satunya harapan Ayah. Jangan seperti Patra itu, perempuan kok kerjanya keluyuran kemana-mana. Ayah ndak mau kamu jadi perempuan yang ndak punya tata krama, unggah-ungguh. Tugas kamu sebagai perempuan, ya di rumah. Begitu luwesnya jadi perempuan dan bla..bla..bla..”
Losari, adikku yang sangat disayang Ayah karena sikapnya yang penurut itu hanya menunduk ketika Ayah dengan kuasanya memberikan nasihat-nasihat yang hampir setiap hari didengarnya ketika aku melakukan suatu hal yang dianggap Ayah sebagai suatu kesalahan.
“Ayah sudah ndak tau lagi apa yang harus Ayah perbuat untuk menjadikanmu sebagai perempuan yang mau menjalani kodrat yang harus kamu terima, Tra. Sekarang Ayah juga ndak tau siapa yang salah diantara kita. Tapi Ayah sudah memutuskan, kamu harus mau menikah dengan Pratomo, anaknya Pakde Raharjo yang kemari tempo hari.” Ayah mengatakan hal itu pada siang yang kuanggap tenang karena siang itu Ayah tak mengguruiku seperti biasanya.
Kata-kata ayah yang baru saja aku dengar membuat detak mesin jantungku hampir berhenti. Seperti ada siraman air mendidih di kepalaku. Sel-sel sarafku pun seperti tak beraturan, kebingungan mencari lintasan-lintasannya, saling bertubrukan dan akhirnya melemah, menyerah dan membuatku terduduk lunglai. Hal inilah yang telah lama aku takutkan, adat telah membuat hal yang paling krusial dalam hidupku pun dicampurinya. Tak memandang bahwa hal itu telah memasuki wilayah yang paling menentukan masa depanku. Bukannya aku tak percaya pada pria yang dipilih Ayah. Pratomo adalah seorang pengusaha lulusan salah satu universitas ternama di Indonesia ini. Sikapnya pun hampir mirip dengan Ayah, mengerti unggah-ungguh, bertata krama, dan mencintai adatnya. Dapat dikatakan dia merupakan kandidat dari para orang tua yang ingin mencalonkan dia sebagai menantu idamannya. Dan merupakan hasil fotocopy Ayah, atau mungkin hasil pengklon-an ayah.
“Ayah kemarin bilang, kalau dia mau menjodohkanku dengan Pratomo.” Aku mengucapkan sebaris kalimat itu dengan pandangan kosong pada Ridwan, kekasihku, orang yang kuperhitungkan untuk menolak keinginan Ayah tentang perjodohan itu. Ridwan tampak gusar, dia mengerutkan keningnya, pertanda bahwa dia menginginkan ada kalimat lain yang kuucapkan. Namun aku tak akan menambahi kalimat itu, karena aku yakin Ridwan pasti akan mengetahui pendapatku tentang hal ini.
“Dan hubungan kita?” tak ku sangka nada suara Ridwan menjadi tinggi dengan pernyataanku tadi. Aku menoleh tepat dimatanya. Kulihat kekalutan yang dia rasakan. Tatapannya seperti pisau yang menghunusku, memojokkanku bahwa semua ini kesalahanku.
“Tanpa harus ku jawab pun seharusnya kamu sudah mengerti, Rid. Kamu tau kan kalau aku selalu tidak setuju dengan pendapat Ayah yang terlalu kuno itu?” aku juga mulai emosi. Harapanku untuk mendengar kalimat bijak dari mulut Ridwan kini berubah menjadi ketidakpercayaanku padanya.
“Patra, aku sudah bosan dengan ini semua. Ayahmu selalu ikut campur dalam hubungan kita. Semua ini hanya sebuah kesia-siaan saja. Mau sampai kapan kita akan terus begini. Aku tak dianggap sama sekali oleh Ayahmu.” Ridwan semakin tersulut. Aku terdiam, tak menanggapinya.
“Aku tahu itu sejak dulu, Rid.” Batinku. Aku memang sangat pesimis dengan hubungan ini. Aku tak akan menikah dengan seseorang tanpa restu orang tuaku, tapi aku juga tak ingin menikah dengan orang lain yang tidak aku cintai. Aku mempertahankan hubungan ini karena aku berharap Ridwan akan berjuang denganku untuk meluluhkan hati Ayah yang sekeras karang itu. Ternyata semua harapan itu kini berujung pahit, Ridwan memilih menyerah menghadapi keputusasaanku ini. Dia pergi meninggalkanku di saat aku begitu membutuhkannya.
Dan celakanya, aku begitu menggantungkan harapan-harapanku padanya. Tanpa menoleh sedikitpun pada kenyataan buruk yang bisa saja sewaktu-waktu menghampiriku seperti saat ini. Ridwan yang ku kenal baik, mampu mengerti tentang pikiran-pikiranku yang membenci kediktatoran Ayah, Ridwan yang seringkali mendukungku ketika keputusasaan menghampiriku, kini hanya menjadi Ridwan yang pecundang, yang menyerah begitu saja menghadapi sikap Ayah. Dan akhirnya memilih jalan aman untuk lari dari kehidupanku yang memang terasa begitu kelam ini.
Aku tak memilih keduanya, baik Ridwan maupun pilihan Ayah, aku perlu waktu untuk menata hidupku. Mencari kesenanganku yang dulu sempat terenggut ketika Ayah dengan kekuasaannya menyuruhku untuk tinggal di rumah, belajar menjadi perempuan dari Ibu dan Adikku. Kini aku memilih jalanku sendiri, aku harus pergi dari keterkungkunganku ini. Tanpa Ayah, Ibu, Losari, Pratomo atau Ridwan. Meninggalkan adat yang selalu dijunjung oleh keluargaku. Tak kupedulikan tentang ucapan Ayah yang menuduhku sebagai perusak adat yang telah diwariskan oleh moyangku. Dan aku pun tak pernah bermimpi untuk memiliki sebuah keraton seperti yang telah diciptakan Ayah selama ini. Aku hanya akan mencintai budayaku dengan caraku sendiri, bukan menjadi perempuan yang hidup dalam bangsal yang dikhususkan untukku. Hingga suatu saat ketika ayah dengan kebijaksanaannya membiarkanku memilih adatku sendiri.
Ika Fibri, Maret 2008/21