Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

04 Februari 2009

dibalik PINK

oleh: N. Salamah

Suatu kebetulan yang menyenangkan, pagi ini aku bisa bertemu dengan dia lagi, sahabatku lama kita tak berjumpa. Dengan senyum yang selalu menghibur dan kedipan matanya yang lucu semakin buat aku penasaran.
Aris, dialah lelaki itu yang sering Wiwi ceritakan kepada Anita. Menurutnya lelaki itu sangat baik dan rupawan. Anita tidak suka dengan senyumnya karena baginya senyum itu tidak tulus hanya semata untuk menggaet wanita bodoh yang mudah termakan bujuk rayu seorang lelaki. Wiwi malah tambah kagum dengan sosok Aris yang baginya adalah lelaki yang paling sempurna, tidak jarang dia tersenyum-senyum sendiri, entah apa yang sedang dia pikirkan. Tapi Wiwi adalah teman yang baik untuk Anita. Wanita penyuka warna biru itu sungguh baik dan ringan tangan dalam menolong sesama termasuk teman sebangkunya Anita. Sebaliknya, Anita sangat menyukai warna merah muda yang banyak orang menyebutnya warna pink, warna cewe banget, warna cengeng, dan apalah yang bagi sebagian orang warna pink itu tidak berkarakter. Lain halnya dengan biru, yang penuh semangat, tegas tapi tetap lembut.
Aris lagi-lagi sengaja menampakkan senyumnya yang menurutnya adalah jurus terjitu untuk menarik lawan jenis. Wiwi memang tidak salah, dia punya mata yang masih normal, wanita lain pun akan ke-ge er-an jika selalu diperhatikan lelaki ganteng seperti Aris dengan lesung pipit di sebelah kanan saat dia tersenyum.
Agaknya makna yang terkandung dalam warna kesukaannya mulai meluber, kini Wiwi jadi cenderung melankolis, romantic, tapi tetap egonya masih saja tinggi.
Dengan beratnya yang hanya 30 kg jauh dari berat normal wanita usia kelas 1 SMA, Anita tetap pede dan dia juga tidak minder dengan tubuh cacatnya yang tangan, kaki, dan badannya tidak seperti teman yang lain. Yang setiap jam pelajaran olahraga dia hanya bisa duduk dan melihat dari jendela, jangankan untuk pemanasan yang sekedar lari-lari kecil memutari lapangan basket, untuk jalan pun dia kesusahan, makanya dia memilih kelas yang di lantai bawah karena jika di lantai 2 dia akan sangat merepotkan orang tuanya dan temannya termasuk Wiwi teman sebangkunya, karena hanya Wiwi yang bersedia menggendongnya. Teman yang lain hanya kasian dan merasa jijik dekat-dekat dengan Anita. Bagi mereka Anita itu sebaiknya tidak bersekolah di SMA favorit se Kabupaten ini, dan dia lebih tepat mengenyam pendidikan di sekolah luar biasa yang tersedia kursi roda untuk penyandang cacat seperti Anita.
Lagi-lagi Anita sibuk membuat kartu ucapan di bangkunya, dia sering menyibukkan dirinya dengan kegiatan seperti itu agar teman yang lain tidak usah berbasa-basi untuk menemaninya terkecuali Wiwi dengan senang hati selalu mau berbagi dan bercerita dengan sahabat terkuatnya yang kebanyakan teman lain menganggap lemah. Padahal kalo diamati menurut Wiwi, Anita adalah sesosok wanita yang tangguh, dia pede dengan kecacatannya dan dia menganggapnya bukan sebuah kekurangan akan tetapi kelebihan yang tersebunyi agar dia tidak ria dan tidak digunakan untuk berbuat dosa.
Semalam Wiwi bermimpi berlari-lari menangkap kupu-kupu yang beterbangan di taman, sungguh indah dan menyenangkan, sampai bangun tidurpun Wiwi lupa bahwa Anita itu tidak bisa berjalan apalagi berlari mengejar kupu-kupu.
Pagi hari di kelas
Wiwi: “Nit..Nit… dengerin deh, semalem aku mimpi aneh tapi indah banget!” (wiwi sangat berantusias menceritakan mimpinya)
Anita: “emang mimpi apaan Wi?” (Anita penasaran tapi dia masih sibuk dengan menggambar pola untuk kartu ucapannya)
Wiwi: “semalem aku mimpi kamu bisa jalan!... amazing kan ? Udah gitu kita bareng-bareng ngejar kupu-kupu di taman kota , amboi…. Kupu-kupunya indah nian…”
Anita: “sayang aku ga bisa jalan” (seketika wajah Wiwi muram mendengar respon Anita yang pesimis)
Wiwi merasa aneh dengan sikap Anita, dia tidak biasa berwajah muram jika diceritakan sesuatu yang amazing dan menakjubkan baginya. Biasanya Anita sangat antusias dan tidak kalah hebohnya dengan Wiwi.
Wiwi: “Nit.. maafkan aku ya kalo aku dah nyinggung kamu. Aku cuma..”
Anita: “udah ga papa lagi Wi.. nih udah jadi kartu ucapannya..”
Wiwi melongo… Anita membuatnya dengan bentuk kupu-kupu yang indah, tapi masih berwarna putih, Anita memintanya untuk mewarnainya dengan warna-warna yang cantik
Anita: “Wi tolong dikelirin ya.. yang cakep” (kelir=warna)
Wiwi mengangguk.
Kesokan harinya Wiwi telah selesai mewarnai kartu ucapan dengan warna yang cantik. cenderung warna biru. Setelah Anita melihatnya dia kurang senang, karena dia mengharapkan kupu-kupu itu berwarna pink. Seharian itu wajah Anita murung dan sendu jauh dari kata ceria, Wiwi juga ga mau ngalah dia tanpa merasa bersalah dengan Pedenya bilang “suka-suka aku dong warnainnya, aku kan sukanya warna biru, warna yang berkarakter ga kaya pink, ih…warna apaan tuh, warna cengeng”. Anita sungguh kecewa dengan sikap Wiwi. Tiba-tiba Aris lewat di depan kelas, Wiwi langsung beranjak menemui Aris dan memberikan kartu ucapan itu. Anita makin tidak suka karena memang dari awal dia tidak menyukai Aris.
Keesokan hari Anita tidak masuk sekolah, di surat ijin tertulis sakit. Wiwi mencibir Anita, “ah.. paling dia ngambek kupu-kupunya aku warnai biru”. Kenyataannya Anita memang sakit.
3 hari sudah Anita tidak berangkat, Wiwi agak cemas juga, dia cukup menyesal dengan sikapnya yang kasar, dia berencana bersama Aris dan teman-teman sekelas untuk menjenguk Anita. Dia memungut sumbangan dari teman-temannya dengan mematok seribu rupiah untuk dibelikan buah-buahan. Wiwi tau buah kesukaan Anita yaitu melon dengan aroma dan kesegaran buah itu Wiwi yakin dia akan memaafkan tingkahnya yang seperti anak kecil serta ia berharap semoga Anita lekas sembuh.
Tetapi rencana itu gagal karena teman-teman yang lain membatalkan untuk menjenguk Anita
Wiwi: “kenapa dibatalin apa dia udah sembuh?”
Vina: “soalnya Anita udah ga ada”
Wiwi: “maksud lo dia dirawat di rumah sakit gitu?”
Rudi: “gak wi..”
Wiwi: “lha trus kenapa?”
Satu persatu teman-temannya menunduk, tidak ada yang berani mengungkapkan sebenarnya. Wiwi benar-benar bingung dia masih saja positif thinking berharap Anita baik-baik saja. Namun, kenyataan tetaplah kenyataan bahwa Anita telah tiada, pergi selamanya terbang bersama kupu-kupu ke taman yang terindah di Surga yang abadi.
Satu penyesalan yang selalu terngiang dalam kepalanya, andai saja Wiwi memenuhi keinginan Anita untuk memberi warna kupu-kupu dengan warna pink, ah… segalanya sudah terjadi.
Kini Wiwi tidak pernah menjelek-jelekkan warna pink lagi malah dia menyukai warna tersebut, yang menurutnya mengandung warna kelembutan, romantic, dan jauh dari kesan kasar.
I love pink
I love my best friend..

17 Desember 2008

Lanjutan Cerpen Buletin

Kidung Kebekuan
Oleh: Liana '06

Bibi tercengang, menangis dan keluar ruangan. Ia merasa shock suaminya selingkuh dengan saudaranya sendiri. Nenek dan Afza juga menangis. Tapi paman tak mengeluarkan setetes air matapun. Ia seperti sudah siap dengan segala resikonya.
Paman mengikuti istrinya keluar ruangan. Kubuntuti keduanya tanpa sepengetahuan mereka. Sengaja aku menguping pembicaraan mereka.
”Ma....semuanya tidak seperti yang engkau pikirkan. Semuanya begitu cepat terjadi”, paman mencoba menjelaskan pada bibi. Bibi tak bergeming, ia tetap menangis, meronta. Lalu paman melanjutkan bicaranya lagi.
”Saat mama bekerja di Brunai, Yuni selalu mengantarkan makanan ke rumah”.
”Aku yang memintanya”, kata bibi memotong pembicaraan. Aku masih menguping.
”Dengar dulu penjelasanku Ma. Awalnya memang tak terjadi apa-apa. Suatu hari ia tidur di kamar Afza, pintunya tak terbuka. Kulihat Afza sedang tak dirumah. Aku tergoda dan.......”.
”Sudahlah Pa...biarkan mama sendiri”.
Paman menghampiriku dan mengusap rambutku.
”Maafkan aku Nay...semua salahku. Kini kau boleh memanggil aku ”Ayah”. Bukan salah ibumu saat itu. Aku yang memaksanya. Maafkan aku telah menelantarkan kalian”.
”Tidak...kau hanya laki-laki tak punya hati. Hanya memikirkan diri sendiri. Perampas kebebasan ibuku. Kau bukan ayahku”, kataku sambil lari kearah ibu dan mencoba memeluknya.
Paman menangis di luar ruangan.
Tiba-tiba ibu kejang. Kuminta Afza memanggil dokter. Tak lama ibu terdiam....wajahnya pucat tetapi sedikit menyungingkan senyuman.
”Innalillahi wa inna ilaihi roji’un” kata dokter perlahan.
Mendengar hal itu, aku merasa dunia akan runtuh. Semua tinggal kebekuan di hatiku, hanya luka di hatiku.
” Ibu...jangan tinggalkan Naysa Bu. Naysa sendiri tanpa ibu....”
Nenek merengkuhku, mencoba menenangkanku. Bibi kembali masuk ruangan dan menangis. Tapi paman tak berani masuk ruangan, ia terisak di luar sana dan aku tak peduli.
Perlahan sekujur tubuh ibu tertutup tanah, aku tak dapat melihatnya lagi, untuk selamanya. Teriring do’a dalam hatiku, kupanjatkan dengan sepenuh hatiku.
”Nay...mulai sekarang kamu tinggallah bersama kami. Kamu, ayah, bibi sekaligus ibu barumu, nenek dan Afza telah mau menerima semua kenyataan ini. Semuanya sudah memaafkanku dan ibumu. Kamu tidak seharusnya menderita Nay...ikutah bersama kami” kata paman padaku setelah semuanya kembali tenang.
Aku hanya mengangguk. Dalam keluarga baru ini aku mulai membangun kepercayaan diriku yang sempat hilang. Aku mencoba menyayangi ayah dan ibuku yang sekarang. Aku ingin memulai hidup bahagia tanpa dicaci maki orang.
Sebulan telah berlalu, semuanya baik-baik saja, saat aku besekolah tiba-tiba handphoneku berdering.
“Assalamu’alaikum. Halo…Ibu ada apa?” tanyaku kaget.
”Nay....cepat kamu kesini Nay...Rumah Sakit Mandiri Sehat”, jawab ibu singkat.
”Ada apa Bu?”.
”Tut...Tut...Tut”
Telpon dimatikan. Dalam hatiku bertanya-tanya ada apa sebenarnya? Siapa yang sakit? Sesampainya di rumah sakit, kulihat Ibu dan nenek menangis di ruang tunggu.
”Ada apa Bu?”
”Nay...ayahmu kecelakaan sepulang dari restaurant dengan kliennya. Sekarang ia dioperasi” jawab ibu singkat
Aku terdiam, duduk dengan lemas. Tiga jam kutunggu ayahku dioperasi. Rasanya setahun Dokter tak muncul dari ruangan yang menakutkan itu
”Bagaimana Dok?” tanya ibu setelah dokter keluar.
Dokter menggelengkan kepalanya. Seperti sudah mengisyaratkan sesuatu, sudah ada arti darinya.
”Kami sudah berusaha semaksimal mungkin Bu. Tapi Allah yang menentukan segalanya. Jantung beliau hancur ketika kecelakaan. Tabahkan hati Ibu dan keluarga yang ditinggalkan”.
Nenek dan ibu berpelukan. Aku tak mampu membendung air mata. Kebekuan terasa menemaniku. Aku tak bisa lepas dari kesedihan. Kedukaan seperti menjadi bagian dari hidupku. Kini aku telah kehilangan ayah dan ibu kandungku. Apa lagi yang kupunya kini?
”Ya Allah...kenapa kau ambil dia ketika aku sudah mempercayainya. Kau sudah mengambil ibuku. Aku sendiri lagi ya Tuhan......Kenapa kau renggut dia dari kehidupanku saat aku sudah berbahagia dengannya. Apa yang harus aku lakukan ya Allah? Rasanya baru sebentar saja dia menjadi bagian dari hidupku. Kupasrahkan semua takdir kepada-MU ya Rabb...” rintihku pelan.
Di bukit ini kembali ku tatap langit, tetap tak ada bintang yang indah. Langit tetap suram tak merona sedikitpun. Bintang jatuh yang kutunggu tetap tak muncul. Serangga malam serasa bernyanyi di berbagai ujung, menyanyikan sebuah kidung kebekuan untukku. Malam semakin larut, semakin dingin. Aku masih sendiri.

17 November 2008

Cintamu Sepanjang Masa


OLEH : Diska'08
Suara yang lembut, kata-kata yang penuh dengan makna, perhatian yang tak kenal lelah, cinta dan kasih sayang selalu kau berikan tanpa pamrih. Semua itu tak akan pernah kulupakan sampai akhir khayatku tiba.............
Engkau sesosok orang yang selalu menemani hari-hari kecilku. Tanpa perantaramu aku takkan pernah ada di bumi ini. Engkaulah ibu, cintamu, kasih sayangmu, lembut sentuhanmu, gaya bahasamu tak akan pernah bisa terlupakan.
Pagi dengan udara yang dingin, angin menusuk tulang-tulangku. Pukul tiga pagi aku terbangun untuk sahur. Aku beranjak dari tempat tidurku untuk segera mengambil air wudlu. Selesai itu aku mendengar ada seseorang di dapur. Aku langsung menuju ke dapur.
Aku melihat semua makanan telah tersaji di meja makan. “ Wah.....kayanya enak ni.......Pasti ibu yang buat, wah jadi lapar ni” Kataku dalam hati. Tidak lama kemudian, kami satu keluarga berkumpul untuk makan sahur. ” Nduk, sini”! Kata ibu. “ Nggih bu”. Jawabku. ” Ada apa bu?”. Tanyaku. ” Ibu mau bicara sebentar”. Kata ibu.” Nduk ...........”Kata ibu. “Nggih bu” Jawabku. Aku mendekatinya dan duduk di sampingnya. Sambil ku tatap wajahnya yang begitu lembut, memancarkan cahaya cinta.
Setetes air mata menetes di pipi yang lembut dari bola matanya yang indah.Ia mencium kedua pipiku dan memelukku. Aku terdiam.....aku......aku.....aku..... pun tak kuasa menahan air mataku yang memaksaku untuk menangis. Aku tak kuasa melihat ibuku menangis. ” Bu, kenapa menangis?” Tanyaku. “Ibu tak apa-apa nduk, ibu Cuma ingin bilang....” Kata ibu dengan suara yang serak. ”Kenapa bu?” Tanyaku penasaran. ”Ibu sayaaaaaaang banget sama kamu nduk. ”Kata ibu.
“Vira juga bu, vira sayaaaaaaang banget sama ibu”Jawabku. “Aku bingung...... .....Kenapa ibu menangis?” Tanyaku dalam hati. Aku pun memberanikan untuk bertanya pada ibu. ”Bu kenapa menangis?” Tanyaku. “Apa ada sesuatu yang ibu sembunyikan dari vira?”Tanyaku lagi. “Tapi kamu jangan sedih ya nduk?”Kata ibu. “Memangnya kenapa bu?”Tanyaku. ”Ibu Insya Allah mau pergi,jauuuuuh banget, kamu jaga adik-adikmu dengan baik ya!”Kata ibu. Aku semakin bingung dengan itu semua, beberapa pertanyaan melintas dalam pikiranku. ”Apakah ibu mau mencari kerja?”Tanyaku dalam hati. Tapi ibu kan sudah mempunyai pekerjaan tetap, walaupun gajinya gak seberapa. Aku jadi tambah bingung.
Tiba-tiba ada suara orang yang mengetuk pintu, tok.....tok......tok...nduk....nduk.....Kubuka mataku.Aku mendengar suara orang –orang di dalam rumahku yang sedang membaca ayat-ayat Allah.
Dubrak!!!
Aku terkejut,seperti ada sesuatu yang terjatuh.Mata ini langsung terbuka lebar-lebar.
Astaghfirullah ternyata aku bermimpi.Tidak lama kemudian aku melihat sesosok ayah di sampingku. Ternyata ayah membangunkanku. Aku pun beranjak dari tempat tidurku. Aku melihat banyak orang di rumah.”Yah,ko banyak orang?”Tanyaku.Memangnya kita ada acara saur bareng?” Tanyaku. Ayah tak menjawabku.
Aku melihat orang-orang itu sedah membacakan ayat –ayat Allah. Aku melihat ada sesosok orang yang terbaring,di depan mereka.Ia mengenakan kain di sekujur tubuhnya. Sepertinya aku mengenal wajah itu.Aku pun lari dengan cepatnya, ku peluk orang yang terbaring lemah itu. Aku cium ia,tapi ia tidak mau membalasnya. Ia hanya terdiam,ia pun enggan memandangku matanya tertutup. Ia hanya tersenyum. Dia adalah ibuku, ibu yang selalu memeluk dan menciumku. Ibuku kini telah tiada. Di umurku yang baru sembilan tahun aku telah ditinggal seorang ibu. Aku sedih.......
Aku teringat mimpiku tadi. Mungkinkah itu suatu peringatan ataupun pertanda. Aku sangat sedih, ku bacakan ayat-ayat Allah di dekatnya dengan suara yang tersendat-sendat. Aku berusaha untuk ikhlas dengan semua ini. Karena semua ini adalah kehendak Illahi robbi. Aku hanya dapat mendoakannya semoga ia tenang di alam sana.
Hari-hari terasa hampa tak ada orang yang berisik di dapur dengan suara-suara piring yang disiapkan untuk persiapan sahur. Aku selalu berusaha bangun lebih awal dari ayah dan adik-adikku. Aku mempersiapkan makanan untuk sahur sendirian karena memang aku adalah anak perempuan tunggal adikku laki-laki semua, tetapi kadang mereka juga membantunya walaupun hanya beberapa kali saja. Karena biasanya mereka pergi untuk sholat malam ke mushola dan pulang sekitar pukul dua, setelah itu mereka istirahat jam setengah empat baru bangun.Walaupun ibu tidak ada aku harus tetap semangat untuk membantu keluarga. Ayah dan adik-adikku sangat baik mereka kadang juga membantu untuk mempersiapkan untuk persiapan berbuka.
Hari-hari tanpa ibu telah terlewati setelah beberapa bulan. Ayah memutuskan untuk menikah lagi dengan wanita lain. Awalnya aku dan adik-adikku tak setuju dengan permintaan Ayah, tapi setelah aku dan adik-adikku berunding kami merasa kasihan juga dengan ayah.Karena waktu itu kami berpikir negatif tentang ibu tiri jadi kami takut seperti kisah-kisah yang diceritakan oleh orang-orang bahwa ibu tiri itu jahat. Alhamdulillah ayah menemukan seorang istri yang baik ia juga seorang janda. Wanita itu memakai jilbab dan mempunyai satu orang anak ia menjadi seorang janda, suaminya meninggal karena kecelakaan. Setelah lama hidup bersama kami hidup bahagia. Ternyata tidak semua ibu tiri itu jahat aku dan adik-adikku sangat bersyukur pada Allah, karena telah memberikan pengganti seorang ibu yang sangat baik walaupun ia tidak bisa menggantikan sesosok ibu yang dulu melahirkan kami.

gambar dari: http://gendut1mu3t.files.wordpress.com

07 November 2008

Kurelakan kepergianmu


oleh : Erma Susilowati'08

Tujuh bulan telah berlalu, namun bayangmu selalu hadir dalam setiap waktuku. Dirimu telah meninggalkanku, meninggalkan orang – orang yang menyanyangimu. Kau pergi tanpa sepatah kata yang terlontar, kau paergi begitu saja mengejutkan semua orang.
Kenangan – kenangan bersamamu terukir indah dalam kalbuku dan akan terus bersemayam dalam kalbu. Begitu indah untuk aku lupakan. Hari- hari bersamamu begitu menyenangkan dan berarti untukku. Sekarang tak ada yang membantuku yang menopang segala keluh kesahku dalam menjalani roda kehidupan yang terus berjalan tanpa henti. Andai aku bias memutar waktu lalu kuhentikan waktu itu aku tak kan kehilangan dirimu secepat ini.
Hari raya pun telah tiba dan sekarang telah berlalu. Tahukah dirimu disana bahwa hatiku meronta, menangis disini setelah tersadar bahwa dirimu tak ada disampingku. Orang – orang berdatangan bersilaturahmi, kurasakan kesepian yang mendalam tanpa canda dan tawamu yang membuat diriku selalu tertawa. Semua itu tinggal kenangan manis yang berbeslit di hatiku dan takkan mudah untuk aku lupakan. Bagiku tujuh bulan itu seperti baru kemarin diriku kehilanganmu.
Aku mengunjungi rumahmu, membawakanmu bunga mawar yang kau sukai dan kutaburkan bunga- bunga itu diatas pusaramu. Tanpa terlupakan kualunkan do’a – do’a tulusku untukmu, untuk ketenanganmu disana agar kau bahagia didekat-Nya,di surga yang abadi.
Aku berusaha keluar dari kesedihan yang terus membayangi langkahku. Menghabiskan air mata cukup sampai disini namun aku tak snggup. Aku masih butuh waktu untuk merelakan kepergianmu dengan sepenuh hatiku. Menutup lembaran- lembaran hidupku yang telah kau warnai dengan kebahagiaan dan kesedihan yang tak kunjung hilang ini dan berusah membuka lembaran- lembaran hidup yang baru tanpa dirimu lagi mengikhlaskanmu kembali kepada-Nya karna sesungguhnya engkau milik-Nya aku pun juga dan semua yang hidup di didunia ini adalah milik-Nya. Akan tetapi, jangan memaksaku menghilangkan semua kenangan – kenangan indah bersamamu dari memoriku.
Setiap malam, saat ku mulai terlelap tawamu selalu hadir, aku terbangun keluar dan melihat langit yang begitu luas dan indah jika ada bintang dan bulan yang menyinarinya. Saat itu pula aku menunjuk satu bintang yang paling terang diantara beribu – ribu bintang yang bertebaran. Dari situlah aku dapat melihat wajahmu yang begitu tampan bagiku, dan membayangkan senyumanmu cara itu aku lakukanuntuk mengobati kerinduanku yang tak berujung dan tak pernah ‘kan berakhir, dengan begitu kesedihanku berkurang. Sulit bagiku mencari orang yang sepertimu, yang perhatian kepada saudara – saudaranya, ringan tangan, baik hati, TOP banget dech. Tapi sekarang aku hanya bisa berkata : “Selamat jalan kakakku tersayang kami disini akan selalu mendo’akanmu dan semoga suatu saat nanitu entah itu kapan aku berharap kita dapat berkumpul ditempat yang di janjikan Allah swt bagi hamba- hamba –Nya yang beriman dan bertakwa yaitu, surgaMu. Amien …. “

gmbar dari: http://jokocahyono.files.wordpress.com/2007/10/8.jpg

30 Oktober 2008

Perempuan Perkasa


Oleh: Fadilaturrohmah ’08

Harga barang-barang melambung selangit. Bahan-bahan pokok sulit dicari. Ribuan orang berjejer tiap pagi mengantri minyak tanah. Anak-anak tak lagi dapat bersekolah. Pengangguran kian hari kian bertambah. Rakyat semakin menderita dengan terkuaknya tabir busuk penghuni Senayan. Bahkan banyak ditemui korban tak berdosa akibat tidak sanggup memikul beban ekonomi keluarga. Untungnya di desa Tlagu, Gunung Sari, masih tersimpan setitik sinar. Siti, seorang gadis desa berusia 18 tahun yang mampu menjawab tantangan hidup. Ia mengorbankan sekolahnya untuk berjualan di pasar tradisional yang letaknya tak jauh dari rumah tempat ia berteduh bersama bapaknya.
Angin pagi kala itu terasa menusuk sampai ke ulu hati. Berhembus…pelan… dan semakin energik terasa di badan. Tapi, tak satupun orang, bahkan makhluk hidup lain yang menyapanya. Hari begitu dingin sudah tentu tak ada yang mau menunjukkan merahnya untuk keluar dari pintu rumah bahkan sejengkal tangan pun. Tapi tidak dengan Siti, dia adalah perempuan perkasa.
Jangankan angin dingin, hujan badai pun dia tak takut. Siti anak yang solehah. Dia tak pernah telat salat lima waktu, puasa, zakat apalagi. padahal dia tergolong anak yang patut menjadi mustahik. Tapi dia pikir selagi dia bisa, kenapa tidak?. Menurut dia masih banyak orang yang lebih tak beruntung dibanding dirinya. Masih harus meminta-minta di jalan. Tapi tidak dengan Siti,ia memang kuat.
“Heran aku…desa sepadat ini tak ada yang mau menunjukkan batang hidungnya?Mereka pikir angin itu akan memangsa?” batin Siti menjerit, kecewa. Tapi itu tak mematahkan langkahnya menuju pasar. Ia tak peduli akan sunyi jalanan ataupun ancaman keamanan dirinya. Tak terasa satu jam berlalu dia menapaki jalan terjal di desa Tlagu. Tak lama kemudian dia berpapasan dengan seorang lelaki paruh baya. Amin namanya. Tanpa Siti ketahui, dirinya memendam rasa kekaguman pada sosok kuatnya perempuan cilik. Tapi ia hanya bisa mencibir tak selalu bisa dikenang oleh Siti. Karena memang hanya itu yang bisa dilakukan oleh Amin. Maklum, Siti hampir tiap hari bertemu dengan banyak orang di pasar. Amin takut Siti tak bisa selalu mengingatnya. Dengan mencibir paling tidak Siti bisa mengingat namanya, walaupun semburat awan hitam yang bisa Siti ingat dari sosok Amin.
“Hai Sit, bagaimana daganganmu hari ini?” tanya Amin pada Siti sambil menekuk tangannya di pinggang.
“Hei!!kau ini buta? jangan bertanya dikala aku baru keluar dari kandang! tentu takkan pernah kujawab!!”Siti meradang.
”Uhhhhh……” Siti menghela nafas panjang. Dia meneruskan langkahnya menuju tempat dimana dia mencari sesuap nasi untuk seluruh anggota keluarga. Maklumlah, bapak Siti sudah lama terbaring di kasur dengan lumpuh yang dideritanya. Ibunya sudah lama dipanggil Yang Kuasa. Dua orang kakaknya sudah lama pergi merantau ke Sumatera.
Siti tak mau diam berpangku tangan melihat bapaknya terbaring tak berdaya. Apapun akan dilakukannya guna membantu perekonomian keluarga.
“Sayurrrr……wortel-wortel……seger……seger……!!!!” seorang pedagang sayur menawarkan dagangannya ke pengunjung pasar.
“Bu, daging seger lho bu……”seorang pedagang kembali menawarkn dagangannya. Hiruk pikuk warga pasar mulai terdengar ketika Siti menggelar dagangannya. Dia menjual sayur mayur yang dia petik dari kebunnya sendiri.
“Yur….sayurrr….!!!!” teriak Siti keras-keras. Namun tak kunjung membuahkan hasil. Ia benar-benar kecewa. Tanpa pikir panjang, ia langsung kembali mengemasi dagangannya. Siti segera pulang setelah dua jam tak membuahkan hasil.
“Kenapa to nak……..jangan patah semangat!” Mbok Darmin mengingatkan.
“Sudahlah !! mbok!!aku capek!!!!” cetus Siti kesal.
“Moso’ baru dua jam saja sudah tak bertenaga? Biasanya matahari tenggelam pun kau masih betah berada disini!” tegas mbok Darmin yang sudah dianggap Ibu sendiri oleh Siti.
“Aku heran mbok, kenapa pasar sebesar ini hanya ada satu dua orang saja yang mampir!!!”.
Siti nampak amat kesal, dia bicara begitu keras sambil menjejakkan kaki kanannya keras-keras ke lantai berdebu di pasar itu.
“Apa orang desa telah berganti baju menjadi kucing kota?” Siti mengeluh. Air matanya menetes. Tak mampu lagi untuk ditahan. Dia tak kuasa terus berada di pasar, dan segera beranjak menuju rumah.
Belum selesai masalah kenaikan harga, rakyat miskin seperti Siti sudah kembali menderita dengan dibangunnya mall-mall besar. Tentu berimbas pada omset pedangang pasar tradisional. Bukan hanya Siti, pedagang lain pun ikut mengeluh. Mereka kehilangan mata pencahariannya.
“Greekkk…….gubrakkkk!!” keras–keras pintu dibuka. Siti menaruh barang dagangannya spontan di dekat pintu. Dia langsung menuju kamar, tapi tanpa sadar bapaknya terbangun dari tidurnya.
“Anakku……Siti, sini nak!” rintih bapak Siti.
Siti segera berbalik langkah menuju kamar bapaknya.
“Ehmmmmm...”, Siti datang tanpa kata-kata, dia hanya menunjukkan wajah muram.
“Bila seorang anak murung, Bapak pasti tahu…..” bapak berbisik ditelinga Siti.
Siti tak kuasa menahan air mata. Dia telah berubah menjadi sosok yang cengeng dalam waktu sekejap. Duduk bersimpuh di kaki Bapaknya.
“Pak maafin Siti ya? Siti ndak bisa lagi jualan di pasar pak…..” kata Siti sambil menunduk.
“Kau bukan Siti yang kukenal!!? Siti yang kukenal adalah seorang perempuan perkasa. Dia takkan pernah mengenal putus asa!” Bapak Siti bernada keras sambil tetap berbaring di kasur kapuk yang isinya telah menciut.
“Aku bosan pak, bosan dengan tiap keputusan yang diambil pemerintah! Mereka terus membangun mall-mall besar, tanpa sadar mereka menusuk ulu hati pedagang pasar!” Siti terus menerus meluapkan perasaan yang berkecamuk di hati dengan napas terengah-engah.
Bapaknya tak mampu berkata apapun, dia diam. Tak tahu apa yang harus dia lakukan tuk mengobati luka hati anaknya.
“Siti, bapakmu bukanlah orang hebat yang mampu merubah semuanya, bapak hanya bisa berdoa mudah-mudahan dunia ini segera menunjukkan keadilan pada orang kecil seperti kita.”
Bapak Siti menatap langit–langit rumah yang tampak usang sambil menengadahkan kedua tangannya memohon pada yang Kuasa. Sedangkan Siti pergi ke kamarnya meringkuk sendiri merenungi apa yang telah ia perbuat. Sementara senja di luar menampakkan warna yang begitu damai. Siti kemudian sadar akan sebuah perjalanan dan perjuangan hidup. Ia menatap dinding kamarnya. Ia menumbuhkan semangat diri, lalu membayangkan esok pagi ia akan menikmati setiap jejak langkahnya dan dengan semangat membara ia akan meneriakkan ”Sayur...!!! Sayur..........!!!”?

gambar dari: menotimika.wordpress.com

16 September 2008

Cerpen


Sekelumit Nyanyian Surga
Oleh : Andi D Handoko

Kau akan tampak lebih cantik jika tak ada garis hitam yang melingkari indah matamu. Perpaduan yang sangat memesona hati jika kau tersenyum kecil tanpa garis hitam tersebut. Sekarang, aku menatap wajahmu yang kelam. Seperti barisan semut dalam tembok yang kusam, jari-jarimu bergerak kecil membentuk untaian tarian magis. Tarian iblis yang pernah ku lihat di mimpi-mimpi malam dan penuh karat menghitam.
Kau hanya diam memaku tanpa tatap. Matamu terpejam seolah-olah kau sedang mengalami mimpi paling sempurna selama kau terlelap di dunia ini. Kulitmu terlihat pucat membeku, tertusuk jarum infus yang selalu memberimu makan agar otot-ototmu kuat untuk menahan roh di dalam tubuhmu. Secercah warna cahaya pagi pun tak membangunkanmu dari tidur yang begitu lelap.
Secangkir kopi pahit selalu ku hidangkan di sisimu. Agar kau menghirup betapa wanginya kopi itu. Dan bangun untuk menikmatinya bersama kicauan burung yang setia menemani pagi bisu. Kopi dengan sedikit gula. Kopi kesukaanmu.
”Aku hanya minum kopi pahit di pagi hari. Tak boleh ada kafein yang masuk dalam tubuhku jika hari sudah beranjak malam. Aku akan sulit tidur” katamu menolak halus tawaranku untuk minum kopi di sebuah angkringan ujung jalan Malaiboro malam itu. Namun pagi ini, kau tak tergugah untuk segera menikmati kopi yang khusus ku siapkan untukmu. Mungkin pikiranku hanya bisa mengira-ngira jika kau sudah bosan untuk menikmati kopi pahit di pagi hari. Dan aku hanya menunggu malam berharap kebiasaanmu menjadi berubah, yakni menikmati kopi pahit di malam hari. Kenyataannya ketika malam tiba, kau masih membeku bersama kopi pahit yang telah dingin di sampingmu.
Dahan-dahan kering telah menjadi lapuk. Keropos akhirnya jatuh terjerembab bersentuhan dengan tanah yang siap menguraikan semua partikel dahan tersebut. Seperti itulah mungkin yang akan terjadi pada tubuhmu yang putih dan sintal itu. Pikiranku terlalu jauh membayangkanmu mendiamkan waktu. Terlalu lama otakku keruh karena tak ada lagi sambutan senyum manismu di setiap hariku.
Semua ini salahku. Penyesalan memang selalu menghantui ketika semua cerita telah terjalani. Jika aku dapat kembali ke masa lalu, maka aku akan melakukan hal yang terbaik dalam hidupmu. Teringat dulu ketika aku mengenalkanmu pada suatu benda jelmaan sesosok iblis kejam. Kemudian ingatanku melayang ke sebuah peristiwa yang melukiskan pertemuan kita pertama kali di sebuah angkringan di ujung jalan Malaiboro, Yogyakarta.
***
Jalanan di sekitar Malaiboro melenggang sepi. Jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Hujan rintik-rintik mungkin adalah penyebab utama sepinya malam itu. Hanya ada aku dan kau yang berkunjung ke angkringan tersebut. Tatapmu menyiratkan sebuah kesedihan yang mendalam. Namun wajahmu mengatakan sebuah ketegaran yang mampu menutupi semua kesedihan yang kau rasakan. Dalam sebuah jerat kebisuan, aku mencoba memulai percakapan.
”Gilang” aku memperkenalkan diri dan menjulurkan tanganku untuk menjabatmu. Kau tampak tersenyum kecil yang dipaksa. Harapanku untuk menjabat tanganmu sepertinya tak mendapat respon yang baik. Kau hanya mengaduk-aduk segelas teh dihadapanmu dengan sendok kecil di sela-sela genggaman jarimu yang lentik. Ku tahan malu pada penjaga angkringan yang tersenyum simpul. Tanpa membuang waktu yang ada, aku langsung menyeruput kopi panas tanpa gula. Mencoba menenangkan rasa malu dengan berpikir tak ada kejadian di angkringan itu.
Tak terduga kau mengomentari bagaimana aku meminum kopi itu. ”Lidahmu akan mengelupas jika minum kopi panas seperti itu!”. Kau memandangku. Tampak sekali getaran kesedihan yang tersirat di setiap kata yang kau ucapkan itu. Aku hanya diam. Tak berlangsung lama kau berkata lagi, ”Pacarku dulu mengajariku cara minum kopi panas. Tuangkan sedikit kopi panas itu ke alas cangkir kemudian seruputlah, lebih aman bagi lidahmu yang ranum itu. Begitu katanya yang halus mengajariku”. Kemudian sejurus aku melihat air mata yang mengaliri kulit pipimu yang terlihat begitu halus.
Aku menjadi serba salah dan hanya terdiam di sampingmu sambil sesekali memainkan sendok di dalam cangkir kopiku. Seolah waktu berjalan melambat dan kau menyebut namamu dengan jelas. Masih terngiang begitu lembut kau mengucapkan namamu sendiri. Rasti. Lengkapnya Saraswati.
Entah karena suasana mendukung atau memang sengaja takdir mempertemukan kita. Kau dan aku begitu cepat akrab. Setelah menghabiskan segelas kopi dan segelas teh di angkringan itu, kita berjalan menembus jalan Malioboro ditemani malam pekat dengan sentuhan kabut sehabis gerimis. Di sebuah tempat duduk desain taman terbuka di sekitar beteng Vredeburg kau menceritakan semua kisah kesedihan yang kau alami. Aku hanya manggut-manggut mengerti akan kesedihanmu. Cinta katamu. Putus cinta yang sangat menyakitkan.
Ibarat memancing di air keruh. Iblis-iblis dalam benakku membisikkan sesuatu padaku. Mereka menari-nari di setiap rajutan urat sarafku. Akhirnya aku memberimu saran agar kesedihanmu itu lenyap dalam waktu yang sekejap. Kau memandangku tajam penuh rasa penasaran. Aku agak gugup dan menengok kanan kiri kemudian mengeluarkan sesuatu dari celana panjangku. Sebungkus plastik dengan isi beberapa pil iblis.
Ku lihat tatap matamu penuh rasa heran. Kau menggeleng tanda tak setuju. Aku segera meraih tanganmu meyakinkan dengan rayuan iblis yang begitu lembut hingga kau luruh. Kau menurut seperti boneka mainan bocah. Kau mengajakku ke sebuah kontrakan di komplek kampus UGM. Kau menukar isi dompetmu dengan beberapa pil iblis itu. Aku sebenarnya tak bermaksud untuk merusak hidupmu. Aku hanya berusaha untuk mempertahankan status mahasiswaku. Aku tak mau terkena drop out hanya karena tak ada biaya untuk melunasi tanggungan tiap semester. Aku merasa kasihan terhadapmu. Namun tak ada pilihan lain, hanya dari dirimu salah satu harapan untuk itu.
Kau tampak begitu menikmati malam itu dengan sebutir pil iblis yang kejam menyayat urat sarafmu. Kau mengajakku untuk menikmati alam mayamu. Kau meracau tak karuan. Katamu kau sedang bernyanyi nyanyian surga bersama malaikat-malaikat kecil. Aku hanya tersenyum geli mendengar ocehanmu. Tak ku kira kau begitu berani menelan pil itu. Sejenak aku tertarik dengan ajakanmu. Namun akal sehatku masih bekerja dengan baik. Aku tak mau menelan pil iblis tersebut.
Dan tidak hanya malam itu saja kau menghabiskan waktu-waktumu untuk bersenandung mesra di antara ribuan mimpi semu. Setiap waktu kau selalu mencariku untuk menebus pil demi pil hingga kau adalah pintu utama untuk meneruskan pendidikanku. Begitulah seterusnya hingga kau selalu dekat denganku. Sedekat hatimu dengan hatiku.
Kisah itu terus berlanjut. Tak ku sangka perasaan itu muncul. Perasaan yang selalu menginginkan kebersamaan antara aku dan kau. Seperti ranting dengan daun, ku ingin kita sedekat itu. Namun batinku selalu menangis, ternyata kau lebih dekat dengan pil iblis tersebut. Semua memang salahku dan kau selalu mencariku. Bukan mencari hatiku, namun mencari apa yang aku bawa. Yah pil iblis itu. Selalu dan selalu, hingga aku merasa begitu kasihan padamu.
Setiap datang padaku, kau merengek seperti bayi yang telah lama kehilangan susu dari tetek ibunya. Kau selalu meminta pil tersebut. Tak kuasa hati dan dengan tangan berat aku memberikannya kepadamu. Mungkin aku terlalu sayang padamu hingga aku tak bisa melihatmu begitu menderita tanpa mengkonsumsi pil tersebut. Sejenak ku tatap matamu, tak ada tatapan mata yang anggun. Hanya bayangan tarian iblis yang tergambar dalam lensa matamu. Rasti yang dulu telah hilang, namun hatiku selalu berkata bahwa itu adalah kau.
Dan di malam itu. Aku heran kau sudah lama tidak mencariku. Terasa aneh, karena iblis-iblis dalam tubuhmu pasti akan kelaparan jika tidak kau beri pil itu. Jika dulu kau mencariku, malam itu aku mencarimu. Aku datang ke kontrakanmu, namun setengah badanku kaku melihat keadaanmu. Badanmu tengkurap di lantai kamarmu dengan busa putih keluar dari mulutmu yang begitu ranum. Di sekitarmu terdapat banyak pil dan beberapa jarum suntik. Entah dari mana kau dapatkan semua itu. Aku tidak percaya langkahmu terlalu jauh dengan barang-barang seperti itu.
Hingga kini kau masih terbaring tanpa daya di atas pembaringan. Sejenak ku pandang lekat wajahmu. Dalam lelapmu kau tersenyum kecil, seakan-akan kau sedang menikmati alam yang teduh dan damai. Setelah hampir setengah purnama kau terbaring, baru kali ini ku lihat engkau tersenyum. Kau pun kemudian tersadar. Begitu sempurnanya perasaanku kau bisa kembali melihat dunia dengan tatapan indah. Dan setelah urat-urat tubuhmu mengumpulkan daya, kau bercerita tentang apa yang tidak aku ketahui. Suaramu terdengar parau terbata-bata, seolah kau baru saja belajar bicara.
”Gilang, aku baru saja menyinggahi suatu tempat yang begitu indah. Tampak kolam-kolam dengan air jernih dan taman-taman yang terawat rapi. Belum pernah aku menjumpai tempat seindah itu. Lalu aku mendengar nyanyian yang begitu merdu. Merdu sekali hingga hatiku bergetar lembut ketika mendengarnya. Aku pun bertanya pada seseorang yang melintas di tempat itu ’nyanyian apakah itu?’ Dia mengatakan bahwa itu adalah nyanyian surga. Aku ingin kembali ke sana Gilang!”
Aku pun hanya mengangguk tanda setuju dengan apa yang telah kau lihat. Padahal selama ini kau hanya terbaring lemah. Kau menceritakan pada semua orang tentang apa yang telah kau lihat. Hatiku pun bergetar mendengar ceritamu. Terasa begitu aneh. Dan yang tak kalah membuatku kaget adalah ketika kau melakukan tayamum dan beribadah di atas pembaringan itu. Tak pernah ku lihat kau salat dan berdoa sekhusuk itu. Bahkan sebelumnya belum pernah sekalipun aku melihatmu salat.
Aku tertegun melihat perubahan yang begitu drastis pada dirimu. Terus terang aku takut jika harus kehilanganmu. Aku pun sadar untuk memberi ketenangan di dalam ruang itu. Aku keluar dari bilik tersebut. Namun aku kembali dikagetkan dengan raut wajah orang tuamu di luar. Ibumu menangis tertahan. Ayahmu menatapku dengan tatapan mata kosong yang menyiratkan aura kesedihan. Belum sempat aku bertanya apa yang terjadi. Ayahmu memberi selembar kertas. Segera ku buka dan membaca apa isinya. Seperti meledak isi kepalaku. Kertas itu adalah hasil uji laboratorium.
Aku menahan tangis dan berteriak lirih ”Bangsat kau virus iblis”. Setelah itu kepalaku pening dan ku lihat dalam bayanganku, kau jauh terdengar samar menyanyi lagu yang begitu merdu. Entah lagu apa? Mungkin saja nyanyian surga.